Sepotong Senja Untuk pacarku, komentar..

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Komentar cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku :

Cerpen karya Seno Gumira Aji  ini, berkisah tentang bagaimana seseorang  mendapatkan senja untuk dikirim pada kekasihnya yang bernama Alina dengan cara memotong senja tersebut di suatu pantai.

Kisahnya bermula bagaimana dia duduk di tepi pantai memandangi senja yang beranjak tenggelam. Kemudian timbulah inisiatif darinya untuk memotong senja yang bagus itu dan mengirimkan kepada kekasihnya. Setelah berhasil memotong senja sebesar ukuran kartu pos   kemudian ia membawa pulang. Ketika ia akan masuk ke dalam mobil orang-orang di sekitar pantai mengetahui bahwa dia yang telah memotong senja tersebut. Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antara dirinya dengan para polisi di seluruh kota hingga ia tersudut dan nyaris terperangkap. Untunglah ia menemukan gorong-gorong yang terbuka dan masuk ke dalamnya dan ditolong oleh seorang gelandangan. Dia menyusuri sepanjang gorong-gorong yang gelap, bau dan penuh tikus serta kelelawar itu. Dia berjalan hingga ke ujung gorong-gorong dan menemukan sebuah tangga menurun ke bawah yang ternyata menuju ke mulut sebuah gua. Setelah keluar dari gua tersebut dia terkejut karena di depannya terhampar pantai yang persis sama dengan tempat dia mengambil senja untuk Alina. Di tempat itu ia memotong senja seukuran senja yang telah ia potong di atas bumi tadi  yang ia maksudkan untuk menggantikan senja yang dia potong di atas bumi. Ia lalu menyimpan senja itu di sakunya. Sehingga dia mempunyai dua potong senja di saku sebelah kanan dan kirinya. Setelah berhasil memotong senja tersebut ia berjalan pulang kembali ke pantai dimana tadi ia memotong senja yang pertama. Di sana ia menggantikan senja yang dia ambil dengan senja yang ia potong di pantai yang ada di ujung gorong-gorong itu. Sedangkan senja pertama yang ia potong di pantai ia kirimkan untuk kekasihnya, Alina.

Kelebihan dari cerpen ini adalah alurnya sistematis sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami maksud dari cerita ini. Meskipun banyak pengulangan kata senja, hal tersebut tidak membuat kebingungan dalam membacanya sebab memang itu adalah inti dari cerita cerpen ini bagaimana kronologis senja itu dipotong lalu bisa sampai ke tangan kekasihnya, Alina. Di samping itu Seno Aji juga mengajak pembaca untuk mengimajinasikan bagaimana kisah perjalanan si pemotong senja yang dikejar-kejar polisi sampai ia bisa menggantikan senja yang ia potong di bumi dengan senja yang ia dapatkan di pantai di ujung gorong-gorong dan berhasil mengirimkannya kepada Alina.

Denias, Senandung di Atas Awan

RESENSI FILM DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN

Kisah anak Papua Mendamba Sekolah

Oleh Ade Irwansyah
Pada suatu ketika, sebutlah 1973, hadir Si Doel Anak Betawi. Film arahan mendiang Suman Djaya itu mengangkat realitas keseharian anak Betawi. Si Doel dimainkan Rano Karno saat masih kecil. Filmnya berakhir kala Doel masuk sekolah. Impian Doel buat mengenyam pendidikan terwujud. Doel bukan lagi cuma anak Betawi, tapi sudah jadi “Si Doel anak sekolahan,” begitu kata neneknya di ujung film.

Lantas, menginjak 2000-an hadir film Denias, Senandung di Atas Awan. Kalau Si Doel dari Betawi (baca: Jakarta), maka tokoh utama film ini, Denias berasal dari bagian paling timur negeri ini, Papua. Nah, dari sini film ini seolah punya eksotikanya tersendiri. Seting alam Papua nan indah tentu bakal memanjakan mata.

Dan demikianlah adanya. Sejak awal film lanskap Papua nan luas disyut mentereng. Hamparan savana hijau, hutan, hingga salju abadi di puncak Jayawijaya. Lalu, kamera menyorot keseharian penduduk asli di pedalaman. Di sana ada upacara pemakaian koteka, ada anak-anak asli Papua berburu di hutan.

Hei, kok sepertinya film ini asyik memotret alam Papua dan keseheraian penduduknya saja? Ini bukan film dokumenter kan? Kok sampai lebih dari 15 menit, belum ketahuan filmnya bercerita soal apa?

Oke, penonton juga tahu Papua itu indah. Masyarakatnya unik. Namun, bukan itu tujuan utama penonton merogoh kocek ke bioskop menonton film ini. Beruntung, si pembuat film segera tersadar kalau sedang menggarap film cerita—bukan dokumenter. Lama-lama cerita yang seolah tak hadir, mulai muncul. Alkisah, hiduplah Denias (Albert Fakdawer), seorang anak usia SD yang hidup di pedalaman Papua. Denias anak seorang petani ladang (Michael Jakarimilena).

Oleh ibunya (Audrey Papilaja), Denias dipesan untuk terus bersekolah biar pintar. “Kalau kau pintar, gunung pun akan takut padamu,” begitu ibunya berpesan. Pesan itu terngiang terus. Denias rajin bersekolah pada seorang guru (Mathias Muchus). Kendati sering diganggu Noel (Ryan Manobi), anak kepala suku, Denias tetap masuk sekolah. Hingga suatu kali, sang guru mesti kembali ke Jawa. Denias tak lagi bisa sekolah.
Beruntung ada yang mau jadi guru pengganti, seorang tentara di pedalaman yang dipanggil Denias dengan sebutan Maleo (Ari Sihasale). Persahabatan Denias dan Malaeo makin menggelorakan niatan bocah itu untuk terus bersekolah. Apalagi setelah ibunya meninggal, Denias berniat mewujudkan tekad mewujudkan impian ibunya, bersekolah dan jadi pintar. Maka, ketika Maleo mesti pergi karena panggilan tugas, Denias tak lantas patah arang. Ia mencari sekolah baru sendirian.

Denias berjalan melintasi hutan, sungai, bukit, dan gunung, hingga sampai di wilayah komplek PT Freeport. Di sana, ada sekolah bagus dengan fasilitas pendidikan terbaik. Denias ingin bersekolah di situ. Tapi tentu saja, jalan ke situ tak mudah. Selama berhari-hari Denias menggelandang bareng Enos (Minus Karoba) di sekitaran sekolah. Kegigihan Denias untuk bisa sekolah membuat seorang guru di situ, Sam (Marcella Zalianty) tergerak. Sam mengupayakan Denias bisa sekolah di situ. Seperti halnya film Si Doel dahulu, Denias tentu akhirnya diterima untuk sekolah. Tapi bukan itu yang penting. Semua juga tahu film ini bakalnya berakhir bahagia. Yang penting, bagaimana John De Rantau menggarapnya. Ia—bersama penata kamera Yudi Datau—awalnya keasyikan memotret keindahan alam. Hal ini tadinya membuat diri ini khawatir, jangan-jangan filmnya bakal berujung seperti Ruang, sinematografi ciamik tapi minus cerita. Untunglah tidak begitu. Denias sedikit banyak justru hadir bak oase di padang pasir. Di tengah keriuhan film horor yang tujuannya cuma ingin mengeruk uang, masih ada sineas yang punya idealisme mengangkat sisi lain orang Indonesia yang jarang diangkat jadi tema film. Untuk ini kita mesti berterimakasih pada kegigihan pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen (lewat bendera Alenia Productions) mewujudkan film yang diangkat dari kisah nyata ini. ***

Diposting oleh adeirwansyah di 1:21 AM

http://adeir.blogspot.com/2007/01/resensi-denias.html

Hasil resensi dari resensi film Denias, Senandung di Atas Awan

Denias, Senandung di Atas Awan, sebuah film yang menjadi oase di tengah kegersangan perfilman Indonesia yang kala itu sedang marak-maraknya pemutaran film-film bernuansa horor. Film ini mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia karena keunikannya dan sisi lain yang ditawarkan film ini. Peresensi film ini, Ade Irwansyah, menganalogikan dengan film yang serupa muncul di era tahun 1970-an, “Si Doel Anak Betawi”. Kedua film tersebut memberikan pesan yang hapir sama, begitulah yang ditangkap oleh Ade. Di awal film Denias ini, dia melihat bahwa seakan-akan film tersebut merupakan film dokumenter karena hampir selama 15 menit belum ada tanda-tanda film tersebut berkisah tentang apa. Yang ada hanyalah penampakan lanskap alam Papua. Namun setelah menit ke-15 itulah cerita pun dimulai dan semakin memperlihatkan pesan yang ingin disampaikan film ini kepada pemirsa. Resensi film ini cukup memberikan gambaran kepada kita tentang film yang akan kita tonton (jika belum menonton) maupun yang sudah menonton film ini. Tetapi sayang, bahasa yang digunakan dalam resensi ini kurang sedikit formal dan analisisnya terlalu umum. Harusnya peresensi juga memaparkan tentang latar belakang bagaimana pembuatan film ini yang diangkat dari kisah nyata seorang anak Papua.

RESENSI BABY AND I

Judul Film         :    Baby and I (Agi wa Na)

Produser          :    Yang Joung-Gon

Scriptwriter      :    Lee Seong-Min

Pemeran          :    Jang Geun-Seok, Munmeisen, Kim Byeol, Go Gyu-Phil, Choi Jae-Hwan, Kim Byeong-Ok, Park Hyeon-Sook, Jeong Gyu-Soo, Jang Jeong- Hee, Kim Jeong-Nan, Kim Yang-Woo

Durasi               :    1 jam 38 menit

Resensi            :

Film ini berkisah tentang seorang anak SMA Myun Seong, Han Jun-Soo (Jang Geun-Seok) bersama 2 orang temannya Gi-Soek (Go Gyu-Phil) dan Chun-Seong (Choi Jae-Hwan) yang sering terlibat pertarungan antargeng. Orangtua Jun-Soo kebingungan dalam menghadapi ulah anaknya karena Jun-Soo sering diskors dan ayahnya sering dipanggil oleh Kepala SMA Myun Seong. Sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan Jun-Soo sendirian di rumah dengan bekal uang US $100 dan kartu ATM yang telah diblokir.

Suatu hari Jun-Soo pergi ke swalayan, dia tidak menyadari kalau trolley belanjaannya ditukar dengan bayi oleh seseorang, dalam trolley itu ada secarik kertas berisi catatan bahwa bayi itu milik Jun-Soo siswa SMA Myung seong. Akhirnya dengan perasaan jengkel dan marah Jun-Soo harus membawa pulang bayi itu bersamanya dan mengasuhnya sendiri karena dia tidak menemukan pemilik bayi tersebut. Bayi yang kemudian dia namakan Woo-Ram (Munmeisen) itu ternyata memberikan perubahan bagi kehidupan  Jun-Soo selama dirinya ditinggal oleh kedua orangtuanya. Dia berubah bersikap dewasa, yaitu merasakan menjadi seorang ayah, merawat bayi, bekerja untuk membelikan bayinya susu, dsb.

Film ini tidak hanya menceritakan  kehidupan seorang anak SMA di Korea yang sering terlibat pertarungan antargeng namun juga loyalitas seseorang kepada sahabatnya, yaitu ketika Jun-Soo rela menjual motor kesayangannya dan memberikan uangnya kepada Gi-Seok karena ibunya sakit-sakitan dan ia tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang cukup untuk menutupi kebutuhannya. Kisah roman pun tak luput membumbui cerita dalam film ini, Kim Byeol si Jenius sudah lama tidak mau bersekolah dan setelah melihat Jun-Soo di depan gerbang sekolah Myun Seong dia merasa jatuh hati pada Jun-Soo. Kim Byeol kemudian rajin berangkat ke sekolah. Selama itu pula Kim Byeol selalu datang ke rumah Jun-Soo untuk membantu mengurus bayi Woo-Ram.

Awal pengambilan gambar dari film ini mampu mendeskripsikan kekhasan keadaan di Korea yaitu pertarungan antargeng, kemudian hadirnya warung phojamacha, sungai Han, dsb. Film ini berakhir dengan diketahuinya ayah dari bayi Woo-Ram yaitu Gi-Seok yang menukar trolley Jun-Soo dengan trolley bayinya saat berada di swalayan.  Film ini mampu menampilkan semua sisi kehidupan yang harus dijalani seorang manusia. Yaitu bagaimana ia berperan sebagai orangtua dalam kehidupan yang nyata, seorang anak sekaligus siswa yang mempunyai kewajiban berbakti kepada orangtua dan tanggung jawab pendidikannya, kesetiaan kepada teman, dan yang terpenting adalah belajar bersikap dewasa yakni berani mengambil resiko di setiap tindakan yang dilakukan.



“NYAMANNYA” NAIK BUS KOTA JOGJA


Jika ingin memacu adrenalin tidak usah repot-repot naik jet coaster atau tornado yang ada di Dufan. Karena cukup naik bus kota Jogja Anda akan mendapatkan sensasi terpacunya adrenalin Anda.

Saya telah membuktikannya, hari Ahad  yang lalu saya berencana mengunjungi saudara yang kos di Gowongan. Dari Selokan Mataram kampus Kehutanan UGM saya menunggu bus kota jalur 4 yang menuju ke Malioboro. Setelah 5 hingga 7 menit menunggu akhirnya bus  datang. Bus berhenti dan saya mulai naik namun sebelum sempat saya duduk supir bus sudah mulai tancap gas dan saya kaget dibuatnya. Sehingga reflek saya agak terpental ke belakang. Kemudian bus melaju melewati perempatan Polsek Depok, Pasca Sarjana UGM, kampus Teknik UGM , RS. Dr. Sardjito dan berhenti di pertigaan lampu merah Gedung Purna Budaya. Selama melewati tempat-tempat tersebut kekagetan kedua muncul, pasalnya supir bus mengemudikan busnya tak tanggung-tanggung. Ngebut. Seolah-olah bus tersebut tidak ada penumpangnya. Lampu hijau pun menyala dan bus berbelok ke kanan melaju ke arah selatan lalu berhenti di selatan Mirota Kampus tepatnya di depan Seven Resto. Pasti ngetem, kata saya dalam hati. Tak berapa lama seorang pria paruh baya masuk menyandang sebuah alat musik petik dan jrreeng…. Dari intronya telinga saya langsung akrab dengan lagu yang akan dibawakan pengamen itu. Seketika saya tertarik untuk mengamati pengamen itu menyenandungkan lagu  I’m Yours-nya Jason Mraz. Alasannya, karena saya sendiri kurang mengerti dialek Jason Mraz dalam nyanyiannya jadi saya hanya bisa sedikit menangkap kata-kata yang dia nyanyikan tetapi pengamen tersebut lumayan bagus membawakan lagu tersebut meskipun di beberapa bagiannya hanya keluar gumaman tak jelas. Usaha pengamen itu cukup membuahkan hasil saat ia menyodorkan kantong plastik hampir semua penumpang bus memasukkan receh ke dalamnya dan tebakan saya penumpang bus cukup terhibur dengan nyanyiannya itu.

Setelah pengamen itu turun dan ada beberapa penumpang yang naik lalu  bus kembali melaju. Selama perjalanan saya berusaha menikmati “nyamannya” naik bus dengan mengamati keadaan  sekitar dari dalam kaca bus. Saya mulai bersiap-siap untuk turun ketika bus sampai di perempatan Tugu Jogja dan berbelok ke Selatan melewati halte bus Trans Jogja yang pertama. Bus kemudian berhenti di depan kantor PLN dan saya mulai melangkahkan kaki untuk turun. Belum sepenuhnya kaki merasakan tanah  supir bus sudah mulai tancap gas lagi membuat  saya turun dengan setengah melompat. Duh gusti, apakah ini Indonesia? Serta merta saya ingat dengan curhatan seorang teman dari Solomon Islands saat tutorial beberapa waktu lalu. Dia mengeluhkan tentang supir bus kota yang selalu membawakan bus dengan ugal-ugalan. Dia berkata bahwa  banyak orang asing takut naik bus karena khawatir dengan bus yang dikendarai ngebut oleh supirnya. Memang, tidak semua supir bus mengendara secara ngebut tetapi supir-supir yang membawakan bus dengan ngebut itu membuat masyarakat men-generalisasi tentang “nyamannya” naik bus. Tak heran jika sekarang  beberapa jalur bus kota tak banyak beroperasi sebab sulit mendapatkan penumpangnya.

Sambil menunggu jalanan sepi dari kendaraan, saya membayangkan wah kalau di negara-negara lain seperti Inggris dan Korea Selatan para penumpang bus tidak khawatir saat naik-turun bus. Karena keamanannya terjaga. Supir bus menunggui penumpang naik sampai bisa duduk dengan nyaman dan memastikan penumpang benar-benar telah turun dari bus dengan selamat saat keluar dari bus.

Setelah jalanan cukup aman saya mulai menyeberang dan melangkahkan kaki menuju kos saudara saya. Hh.. Indonesia. Ternyata banyak “budaya” yang harus diubah.

fenomena pengemis

Hampir di manapun wilayah di Indonesia pasti ada yang namanya pengemis, apalagi di kota-kota besar, seperti Jogjakarta salah satunya. Di Jogjakarta, daerah perkotaan, akan mudah dijumpai pengemis di mana-mana. Dulu waktu saya pertama kali datang ke Jogjakarta hal itu sangat menggelitik kepala saya, kok ada banyak sekali orang yang kerjanya menunggu duit datang sendiri, dan mereka banyak yang bekerja di seputaran kampus Gadjah Mada. Saat saya menceritakannya dengan teman saya yang lebih dulu tinggal di Jogja, dia berkata bahwa mereka itu ada yang mengorganisir. Jadi mereka harus menyetorkan uang yang didapatnya kepada bosnya.  Ada seorang teman yang melihat, saat pagi hari mereka diangkut menggunakan truk lalu disebarkan ke titik-titik kota yang ramai, saat itu teman saya melihatnya di daerah sekitar Malioboro. Ternyata ada juga perusahaan pengemis di Jogjakarta!

Yang tak kalah menariknya yaitu ketika mengamati pengemis yang ada di perempatan lampu merah. Mereka yang berada di jalanan biasanya adalah nenek-nenek, kakek-kakek, ada juga ibu-ibu yang menurut saya lebih layak bekerja yang lain karena melihat fisiknya yang masih kuat, dan yang terakhir yang membuat saya miris adalah anak-anak yang seharusnya jalanan bukanlah menjadi “rumah” mereka. Bahkan seorang bayipun sudah diajarkan kerasnya kehidupan jalanan. Anak-anak kecil itu menikmati jalanan sebagai tempat mereka bermain sekaligus bekerja. Mereka dibekali wadah plastik dari bekas minuman lalu berlari mendekat dari satu pengendara ke pengendara yang lain dengan memasang tampang memelas. Ada juga seorang pengemis yang kemudian timbul pikiran di kepala saya bahwa dia melakukan tekanan kepada anak-anak. Waktu itu saat saya lewat di perempatan lampu merah polsek Depok, ada bapak-bapak paruh baya yang sedang duduk memandang sesuatu di seberang jalan dengan tatapan mata setengah melotot.  Kontan saya mengekor pandangannya, ternyata ianya tengah mengawasi ”kerja” seorang anak kecil perempuan yang berlari-lari di trotoar menunggu pengendara berhenti. Seperti inikah potret tunas bangsa ini? Mereka dididik untuk menjadi seorang yang bermental peminta. Saya pikir, hal kecil ini yang menjadikan bangsa kita pun memiliki karakter seperti itu, mengemis kepada bangsa-bangsa lain.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

Komentar :

Menurut pandangan saya mengenai cerpen dari seno aji sangat super lebay dan bahasanya sedikit berlebihan. Sehingga pembaca harus berfikir lebih keras untuk mengetahui arti dari sepotong senja tersebut. maksud berlebihan disini contonya pada kalimat sebagai berikut :

1.  Sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

2. Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi.

3. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

4. Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku.

5. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Menurut saya si Tokoh utama tersebut sangat egois sekali hanya demi seorang kekasihnya yang dia cintai dia rela mengambil senja padahal tanpa senja banyak orang kehilangan hidupnya. Kerena senja adalah nyawa bagi mereka.

Meresensi Film A Walk 2 Remember

Judul Film : A Walk to Remember

Sutradara : Adam Shankman

Aktor/aktris : Shane West, Mandy Moore, Peter Coyote, Deryl Hannah.

Based o the noel by : Nicholas Sparks

Directed by : Adam Shankman

Produced by : Denose di Novi, Hunt Lowry

Bagaimana rasanya sich jika seseorang yang merubah kehidupan anda menjadi baik sekaligus orang yang anda cintai akan menemui ajalnya? Hal tragis inilah yang terjadi oleh Landon Carter (Shane West) dalam film A walk to Remember yang merupakan  film yang romantis dan sedih. Seperti film telenovela.

Landon beserta teman kelompoknya adalah salah satu geng yang terkenal di sekolah Beaufort, North Carolina. Mereka selalu melakukan hal-hal yang aneh dan tidak bermoral seperti bermabok-mabokan, melecehkan orang. Di sisi lain ada gadis bernama Jamie Sullivan yang memiliki sifat yang berbeda. Ia adalah seseorang yang pendiam, penyayang dan juga beragama. Ayahnya adalah seorang pendeta maka itu wajar jika sifatnya menuruni bapaknya. Suatu malam Landon dan teman-temannya bermabuk-mabukan di pabrik semen. Mereka melakukan permainan untuk anak yang akan masuk pada geng mereka namanya opie. Caranya dia harus melompat dari atas tower dan terjun ke air. Walau pertama London bersedia ikut tapi waktu tiba waktunya London tidak melompat. Setelah itu opie melompat dan terjadilah kecelakaan pada opie akibat ulah mereka. Setelah ada kejar-kejaran dengan polisi akhirnya London tertanggap juga dan mengalami sedikit cedera kaki. Semua ini salah Landon karena ialah yang merencanakan dan memulai aktivitas mabuk-mabukan. Maka itulah kepala sekolah memberikan dua hukuman berat yaitu mengajar priavat untuk adik kelasnya dan juga berpartisipasi di sebuah drama di sekolah. Hukuman inilah yang mempertemukan Landon dan Jamie. Jamie yang diperankan oleh  Mandy Moore yang lebih dikenal sebagai penyanyi ketimbang artis. Mereka berdua masuk di pentas drama sekolah dan makin lama Landon jadi jatuh cinta terhadap Jamie karena ada keunikan tersendiri yang terdapat pada Jamie. Walau pertama kali tidak mendapat restu dari ayah Jamie karena ayah Jamie adalah seorang pendeta yang diperankan oleh Peter Coyote. Ia memerankan seorang ayah yang beragama dan terlalu melindungi Jamie dari kenyataan di dunia ini tapi akhirnya disetujui untuk kebahagiaan anaknya. Namun tidak terasa hal-hal yang indah itu hilang sekejap ketika Jamie menyatakan bahwa dirinya mederita penyakit Leukimia!

Apakah sebuah film romantis drama yang ditargetkan untuk para remaja harus ditaburi dengan adegan-adegan seks yang banyak untuk menjadi sebuah film yang lebih berkesan artistic dan romantis? Bagus sekali, sutradara Adam Shankman telah mengubah kenyataan itu dengan membuat film A Walk to Remember. Beda dengan film percintaan remaja lainnya, A Walk to Remember memiliki ciri khas sendiri. Biasanya percintaan remaja ditaburi dengan adegan seks, namun A Walk to Remember lebih menggambarkan cinta yang sejati dan sangat romantis. Kisah romantis tersebut menjadi sebuah cerita yang tragis dan menyedihkan. Namun di lain pemikiran itu, A Walk to Remember memiliki beberapa adegan yang berlebihan tentang film ini. Dan hal satunya lagi yang membuat adaptasi novel romantis remaja ini menjadi sedikit membosankan adalah kemudahan si penonton dalam menebak kisah dan ending film ini. Pada beberapa dialog dan skenario di film ini cukup dramatis dan dapat bikin penonton tersenyum dan kadang2 menyentuh ketika di adegan sedihnya.

London dan Jamie kedua remaja ini sangat cocok memerankan kedua karakter tersebut karena mereka berdua kelihatan romantis dan pasangan yang cocok. Jika dilihat lagi, kisah A Walk to Remember memang mudah ditebak dan juga terlalu simple. Dari pertengahan sampai akhir, penonton sudah dapat mengetahui ending film ini. Namun untungnya si sutradara bisa mengkontrol hal tersebut dengan membuat suasana film ini lebih emosional dan menyedihkan. Tema-tema masalah remaja kurang begitu dibahas di film ini karena A Walk to Remember is about love maka itu film ini lebih banyak menggambarkan pernak-pernik percintaan di masa remaja secara emosional. Tema romantis yang ada di film ini lebih condong ke tema-tema yang lebih spiritual, religius dan innocent. Maka itu lah, film ini lebih tampil sebagai film romantis remaja yang lembut. Lihat saja dengan humor yang ada di film ini. Pasti akan terasa sangat innocent dan tidak begitu kasar humornya. Tetapi ada salah satu konsep yang saya nggak suka dengan film ini karena sering di ulang di film lain, yaitu konsep dua karakter yang memiliki karakteristik yang berbeda namun ketika mereka bertemu, mereka jadi jatuh cinta. Hal ini lah yang terlalu sering dijadikan dalam film-film romantis remaja. Membuat film ini menjadi biasa-biasa saja dan sedikit membosankan. Film yang ber-melodramatis ini bagi saya memiliki moral yang cukup bagus. Meskipun ceritanya sering dilihat di film-film lainnya, film ini telah mengekspresikan hal-hal yang berharga bagi para remaja.

Satu hal yang membuat A Walk to Remember ini lebih menarik dan dramatis adalah soundtracknya. Sampai-sampai saya merekamnya di hp saya. A Walk to Remember memang memiliki kisah yang biasa ditemukan dalam film drama romantis lainya. Yang target penontonya adalah para remaja, namun beberapa kalangan pun akan merasa kecewa dengan film ini karena film ini berkesan seperti romantis drama yang biasa-biasa saja. Formula yang sama dan pernah dipakai di film-film remaja lainnya, terlalu banyak dipakai di film ini. Namun bagi saya film ini lumayan dan pasti banyak dari anda yang pasti akan tersentuh dan sedih! Tapi saya juga nggak heran kalau banyak yang bilang film ini terlalu boring karena alur ceritanya digarap dengan slow-mood style. Setidaknya, A Walk to Remember masih dapat dijadikan sebuah tontonan remaja yang berarti.

Meresensi resensi oke kan”_”

Judul : My Sister’s Keeper

Pengarang : Jodi Picoult

Peresensi: Annisa Fisakinah Nursetyautami

Apakah orangtua berhak memaksa anaknya menjadi donor organ untuk kakaknya yang sakit parah? Jika orangtua memang berhak, apakah seharusnya mereka melakukan itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang menguatkan film yang di karang oleh Jodi Picoult menjadi sebuah karya yang berkarakter, provokatif, menegangkan, dan berkonsep tinggi.

Melodrama berawal ketika Anna Fitzgerald, usia 13 tahun, mendatangi kantor seorang pengacara dengan membawa tabungannya yang hanya sebesar $ 136.87. Dia hendak menuntut kebebasan medis dari orangtuanya. Brian dan Sara Fitzgerald merancang Anna menjadi donor biologis yang sempurna bagi kakaknya, Kate (16 tahun), yang pada waktu berusia 2 tahun didiagnosis menderita leukimia. Bagi Anna, dia hanya dilahirkan supaya dapat menyelamatkan hidup Kate, mungkin jika Kate tidak menderita leukemia, dia tidak akan pernah ada.

Tahun demi tahun setiap kali Kate kambuh, Anna juga harus masuk rumah sakit untuk mendonorkan darah, limfosit, granulosit, dan tulang sum-sumnya. Ketika kondisi Kate semakin kritis, Sara meminta Anna untuk mendonorkan ginjalnya. Namun Anna sudah muak, bahkan Anna bercerita kepada pengacaranya bahwa keluarganya tidak pernah menanyakan pendapatnya mengenai pemberian donor.

”My Sister’s Keeper” memanas ketika para tokoh dalam film ini dihadapkan dengan pertanyaan moral yang tidak dapat dijawab. Keluarga Fitzgerald terbagi menjadi dua kubu dalam hal penuntutan perkara Anna, dan masing-masing kubu memiliki argumen yang kuat. Brian, yang ternyata telah lama tidak setuju dengan cara menyakitkan yang ditempuh untuk mempertahankan Kate hidup mendukung hak Anna akan kebebasan atas tubuhnya. Namun Sara, yang sangat mencintai kedua putrinya murka, dia menilai tindakan Anna sama saja dengan menandatangani hukuman mati kakaknya. Pertanyaan baru muncul, apapun keputusan pengadilan, bagaimana keluarga tersebut dapat menerimanya?

Pada akhir film, setelah mengikuti Anna melalui perjalanannya, kesadaran muncul bahwa tidak ada solusi yang gampang atau benar. Tidak ada satupun orang yang dapat dinilai dari apa yang orang pikir bermoral, etis, atau bahkan benar. Terkadang tindakan yang benar tidak diketahui, namun sebagai ibu, dokter, dan bahkan sebagai saudara, yang dilakukan adalah apa yang dirasa benar bagi diri sendiri dan orang lain.

Sangat disayangkan, Penyampaian dari tujuh sudut pandang yang berbeda dirasa terlalu banyak. Dalam film ini juga diceritakan mengenai kehidupan suram dari Jesse, kakak laki-laki Kate dan Anna. Masalah Jesse tidak dapat mengikuti drama penuntutan perkara.

Secara keseluruhan Picoult berhasil menyajikan dilema dengan sangat baik. Dia membawa isu kontroversial dan menyajikannya dengan haru, sensitif, dan anggun. ”My Sister’s Keeper” merupakan film yang wajib ditonton. Setelah melihat film ini, penonton tidak akan lagi mengacuhkan penelitian stem cell dan isu penting lainnya yang mungkin masih kontroversial.

MERESENSI SEBUAH RESENSI

Menurut saya resensi film my sister’s keeper yang dibuat oleh saudara Annisa Fisakinah Nursetyautami tidak cukup komplet dalam menjelaskan alur cerita dari film tersebut. Dan kurang meyakinkan semua orang agar dapat menyaksikan film ini. Seharusnya di beri kalimat yang dapat menggugah atau memaksa semua orang agar dapat melihat film ini. Seperti melihatkan berbagai pendapat penonton yang sudah melihat film ini supaya lebih meyakinkan bahwa memang benar film ini layak untuk ditonton seperti “jika anda melihat film ini pasti anda akan berurai air mata dan melihat kisah drama yang mungkin saja ada di dekat kehidupan kita”. Jeleknya resensi ini hanya menuliskan berbagai kebaikan yang ada dalam film ini seharusnya dia juga menceritakan betapa seorang ibu yang sangat sayang kepada anaknya yang sakit sampai memberikan kebebasan terhadap anaknya yang sakit sehingga ikut terjerumus dalam pergaulan bebas.  Seperti seks diluar nikah. Dan seorang ibu yang tidak mau menerima kenyataan kalau anaknya akan mati dan tetap berusaha berbagai cara supaya anaknya akan selalu hidup. Bahkan dia tidak mengetahui apa yang diinginkan anaknya yang sakit. Tetapi resensi ini tidak menjelaskan sejauh itu. Bahkan kata-kata subjektif dari seorang peresensi untuk memberikan komentar tentang film ini juga tidak cukup banyak seharusnya dia memberi tahu juga bahwa “Film ini memang menggugah kita semua supaya jika kita menjadi orang tua kelak janganlah pilih kasih antara anak yang satu dengan yang lain berlakulah yang adil karena kurangnya kasih sayang anak dari orangtua membawa anak menjadi depresi dan terjerumus. Dan juga jangan terlalu banyak memberikan kasih sayang terhadap anak secara berlebihan walaupun dia sakit karena itu juga tidak baik terhadap anak dan sadarlah kalau manusia tidak akan hidup selamanya dia akan mati dan kembali ke Sang pencipta”. Peresensi juga tidak menjelaskan lebih detail mengenai identitas film tersebut. Tapi uniknya resensi ini bisa menjelaskan kita betapa pengarang cerita dapat menyuguhkan atau menyampaikan film ini dari banyak sudut pandang yang berbeda. Dan setidaknya sedikit memberitahu kita apa yang akan kita dapatkan jika melihat film ini.

Film terDAHSYAT

Pernahkan anda melihat film 2012?. Film yang sempat menghebohkan di kalangan masyarakat beberapa waktu lalu, ternyata tidak hanya sensasi belaka. Berkembangnya isu tentang kiamat tahun 2012 muncul setelah adanya film tersebut. Jika anda telah melihat film ini di bioskop pasti sudah marasakan kedasyatan dan sensansi yang berbeda ketika anda melihat film ini di rumah.  Setelah beredarnya film ini di bioskop-bioskop  seluruh Indonesia tiketnya habis terjual dengan laris manisnya bahkan mengalahkan film-film sebelumnya. Film yang dasyat bukan!. Semua orang memenuhi bioskop untuk melihat film tersebut.  Jika anda belum pernah melihat film ini pasti anda akan bertannya-tanya dan selalu penasaran untuk melihatnya.   Film yang menceritakan tentang kedasyatan hari Kiamat pada tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012. Dan usaha-usaha manusia untuk menyelamatkan populasi manusia dan peradapannya. Menurut masyarakat yang sudah melihatnya mereka beranggapan bahwa film ini terlalu berlebihan. Kata seseorang yang sudah melihat fim tersebut “Dalam Islam kalau Kiamat seluruh kehidupan manusia pasti akan musnah dan tek tersisa tapi film ini setelah Kiamat masih ada kehidupan baru dan mulai tahun baru lagi”. Masyarakat pun dalam menanggapi film ini berbeda beda, ada yang yakin, ada yang ragu-ragu, dan ada yang tidak percaya sama sekali kalau kiamat akan datang pada tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012.  Karena banyak orang yang melihat film serta mendengar berita tentang Kiamat 2012 tersebut banyak orang termasuk anak kecil yang bunuh diri supaya tidak mati pada hari kiamat. Ada anak yang terjun dari lantai 2, bahkan gantung diri. Film terDASYAT bukan?. Ternyata film ini meracuni pikiran anak sehingga mereka bertindak di luar kendali. Bagi anda yang memiliki anak yang belum labil pikirannya sebagai orang tua harus memperhatikan anaknya ketika melihat film yang dapat mempengaruhi anak serta berilah penjelasan lebih lanjut mengenai film yang di tonton itu. Padahal belum tentu tahun 2012 akan terjadi kiamat. Film ini mendapatkan respon yang berbeda-beda

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.